Posts

Showing posts from March, 2012

Ketulusan Seorang Guru

  “Seperti hujan, dia menyirami setiap inci tanah yang dilewati awan Seperti air, dalam diamnya dia membawa apapun yang ak diketahui…” Dalam berbagai bahasa, guru diartikan seagai orang ang diutus untuk memberikan pencerahan. Hal ini terlihat dari kata mu’alim, ustadz atau resi yang berarti orang yang mampu melepaskan sebuah kondisi masyarakatnya dari gelap menuju terang. Jadi, sesungguhnya kata guru memiliki potensi nilai kesakralan dalam kehidupan kita. Namun, sebuah pekerjaan atau profesi yang mulia tidak bisa didapat dengan mudah. Perjalanan menuju keahlian khusus adalah kenikmatan tersendiri ketika seorang telah yakin dengan keputusannya. Tidak terkecuali profesi seorang guru, keihklasan dalam menjalani proses adalah kunci dalam mencari jati diri. Bahwa tak ada proses yang sedemikian mulusnya untuk mencapai tujuan, tetapi penuh dengan jalan yang berliku. Profesi guru menjanjikan amalan-amalan yang banyak hingga semua orang sepakat bahwa guru adalah pekerjaan ya...

Alangkah Lucunya Sekolahku

“Hari gini sekolah, apa kata dunia ? “ Akhir-akhir ini makin marak penggunaan plesetan slogan yang dikeluarkan promosi dinas perpajakan. Pertama adalah dengan mengurangi kata “nggak” menjadi , “hari gini bayar pajak, apa kata dunia ?” Plesetan ini tidak lepas dari kelakuan golongan aristokrat yang menyelewengkan kekuasaan. Kenyataan ini memang sangat lucu, orang-orang ini tidak bodoh, tidak pula sedang lalai. Sebagai kaum yang memiliki ilmu lebih, hal ini sangat memalukan. Kemudian, ketika kita melihat fenomena ini pastilah menyalahkan pendidikan dahulu terkait dengan penokohan dan keteladanan. Bahwa dongeng kancil menjadi sumber semua bencana ini. Kecerdikan kancil dalam mengelabuhi musuh-musuhnya telah diterapkan dengan sungguh-sungguh. Bukan untuk diambil hikmahnya, tetapi untuk diambil kelicikannya. Ya, pendidikan kita masih dalam taraf mengaplikasikan budaya lisan. Begitu kentalnya, hingga semua tayangan yang berbau gosip selalu laris di dalam program televisi maupu...

Belajar dari Siasat Perang Sun Tzu

Image
“Kemenangan adalah ketika kau menang tanpa perlu berperang…” Kalimat di atas adalah salah kalimat siasat Sun Tzu yang terkenal. Di dalamnya terkandung nilai yang besar terkait dengan peperangan yang dimenangkan tanpa adanya pertumpahan darah. Bahwa di dalam setiap masalah, sekalipun pelik, maka selalu ada srategi untuk memenangkannya dengan cara yang anggun. Menyerang tanpa menyakiti, mencapai target tanpa mengesampingkan dan puncaknya adalah memenangkan peperangan tanpa harus mengeluarkan keringat untuk memenangkannya. Nampaknya, siasat perang tersebut perlu diaplikasikan dalam mempertahankan bangsa saat ini. Di tengah gempuran dan pelecehan dengan beberapa pengklaiman, sudah saatnya Indonesia bangkit, bicara dan bertindak. Tentu saja tidak dengan aksi-aksi anarkis, tetapi dengan cara terhormat yang bisa mengembalikan kehormatan bangsa yang terkoyak ini. Bangsa ini sedang membutuhkan strategi pertahanan kedaulatan sekaligus kehormatan. Karena kemerdekaan bangsa ini bukanl...

Menghargai Profesi, Belajar Anti-Korupsi

Image
Selama ini, sekolah masih dianggap sebagai tempat seorang anak belajar tentang kehidupan. Atau bisa jadi, malah dipersepsikan secara lebih sempit bahwa tujuan sekolah adalah untuk mencari nilai.Hal ini tidak terlepas dari terbukanya pikiran para orang tua tentang pentingnya sekolah bagi masa depan anaknya. Berbeda dengan sekitar dua puluh tahun yang lalu. Sekolah adalah tempat orang yang punya uang, untuk anak-anak miskin tempatnya adalah bekerja sebagai kuli, pembantu rumah tangga atau yang lebih beruntung sedikit bisa berwiraswasta. Akan tetapi, dalam perkembangannya sekolah sudah tidak lagi murni ditujukan untuk mengembangkan bakat anak, memberikan soft skill untuk bekal hidup, membentuk kepribadian baik, mendewasakan diri dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sekolah mulai dicampuri oleh berbagai macam kepentingan mulai dari kepentingan politis hingga kepentingan orang tua yang ingin anaknya menjadi yang terbaik Alasan utama yang sering dikemukakan berbagai ahli pendidi...

Mengatasi Kegalauan Massal

Masih jelas dalam ingatan kita, beberapa waktu yang lalu presiden kita menciptakan lagu dan menulis beberapa buku memoar. Bahkan, beberapa buku tersebut beredar di dunia pendidikan sebagai buku penunjang. Bagi saya, masuknya buku tersebut di sekolah tidak masalah sebagai referensi asalkan yang bersangkutan sudah tidak lagi menjabat. Jadi, tidak etis jika yang bersangkutan masih aktif sudah beredar. Hal ini jelas akan mengingatkan kita kembali pada bayang-bayang otoriterisme yang melanda republik ini pada awal berdirinya.  Jika pemimpinnya saja sudah mengalami “kegalauan”, maka bisa dipastikan hal ini akan menjalar kepada rakyatnya. Jadi, tidak perlu heran jika kemudian lembaga-lembaga di bawahnya pun mengalami kegalauan. KPK yang galau menangani bejibun kasus korupsi dari yang teri hingga kakap. Polisi yang galau karena merasa serba salah dalam menciptakan keamanan nasional. Buruh tembakau yang menggalau karena pekerjaannya mendapat tekanan dari UU terbaru. Lagu-lagu remaja y...

Menyusun Kisah Kita

Image
Pada suatu masa, panglima Thoriq bin Ziyad dalam perjalanan membebaskan sebuah daerah. Dengan beberapa kapal perang, ia datangi markas musuh dengan tanpa rasa takut. Akan tetapi, ketakutan justru menghinggapi wajah para prajuritnya. Ketakutan tersebut tertangkap oleh sang panglima. Dalam kondisi demikian, bukannya ia membesarkan hati para prajuritnya tetapi malah membakar seluruh kapal dan perbekalannya. Prajurit bertanya,” Wahai panglimaku, kenapa engkau bakar seluruh kapal kita?” Sang panglima menjawab,” Aku menangkap kegelisahan di wajah kalian, sekarang seluruh kapal dan perbekalan kita sudah habis. Tak ada jalan lagi untuk pulang.” Dan ketika mereka membunuh keraguan, maka kemenangan pun dapat diraih. Sehingga, kita masih bisa mengenang kepahlawanannya dari nama sebuah selat kecil di Eropa bernama selat Gibraltar. Bukan kepahlawanannya yang ingin saya sampaikan, tetapi esensi dari hubungan antarlini dalam organisasi perang. Jika diasumsikan, mari kita anggap organisasi kita ...

Belajar dari Padi

Image
“Semakin berisi, maka ia semakin merunduk. Begitulah padi itu mengajarkan kehidupan pada kita...”   Dalam perspektif umum, setiap orang ingin mengalami kesuksesan dan tidak ingin merasakan kesulitan-kesulitan. Hal ini merupakan sebuah kewajaran yang setiap orang pasti pernah memikirkannya. Bahkan, pengembangan teknologi yang saat ini sudah semakin canggih pun tidak terlepas dari pemikiran dari kesulitan menjadi sebuah kemudahan. Secara tidak langsung, tindakan ini akan mengarahkan kita pada sebuah kerumitan-kerumitan berpikir. Satu hal yang tidak bisa dihindari dari seseorang yang menginginkan kesuksesan adalah kegagalan-kegagalan. Sebagai sebuah perjalanan, ada kalanya seseorang mengalaminya (kegagalan). Bahkan, memang kesuksesan itu berawal dari sebuah kegagalan. Jika tidak pernah mengalami kegagalan, maka kita tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya kesuksesan. Hanya saja, seorang sukses adalah mereka yang mampu untuk berjalan dan melewati kegagalan-kegagalan itu tanp...

Kapan Mau Mulai Menulis ?

Ada yang bilang menulis itu susah, takut salah dan takut dituntut. Tetapi, apa yang akan kita dapat dari sebuah tulisan yang menginspirasi, mencerahkan dan membawa pesan-pesan perdamaian? Silahkan mencoba untuk dijawab sendiri. Bukankah menulis untuk kebaikan adalah kewajiban kita sebagai insan akademia ? Menyampaikan kebenaran, salah satu dari esensi pendidikan . Begitu gencar dalam setiap diskusi, mulai dari bawah pohon, gedung seminar hingga hotel berbintang lima. Yang dibicarakan sama : bagaimana caranya menulis? Hanya tempatnya saja yang sedikit berbeda. Kelas gurem dengan kelas kakap. Tetapi, mulailah dari forum-forum di bawah pohon, karena imbas yang besar itu selalu dimulai dari level bawah. Nyambung lagi ke topik utama, kapan mau menulis? Mungkin benar, kalau kita takut salah dalam menuliskan sesuatu karena memang dari tingkat SD sampai perguruan tinggi, kita hanya menganalisis bahasa saja. Karya yang dihasilkan dari sebuah tulisan memang tak begitu dihargai, kecu...

Menggugat Nurani Mahasiswa

Mahasiswa adalah golongan eksklusif dari masyarakat Indonesia. Kalau tidak percaya, silahkan dihitung dari jumlah teman-teman kita di sekolah dasar yang mampu mengenyam bangku perkuliahan.   Saya kira, kita semua sepakat bahwa yang mampu mencapai level pendidikan tinggi tidak lebih dari 50% pada setiap angkatan. Secara logis, maka hanya orang-orang yang memiliki taraf hidup yang tinggilah yang mampu mencapai level pendidikan ini. Hal ini berkaitan dengan biaya nyata pendidikan di jenjang perguruan tinggi sangatlah mahal. Jika tidak ada berbagai macam bentuk bantuan, maka mahasiswa yang berasal dari   keluarga kurang mampu, jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Sehingga, jika pemerintah sudah tidak mampu lagi menyelenggarakan pendidikan yang terjangkau, akan sulit kita mendapati para ahli di bidangnya yang berasal dari keluarga kurang mampu. Padahal, saat ini paham komersialisasi telah menjadi kata kunci dalam pergaulan dunia. Ketika pendidikan hanya dikuasai kaum-kaum elit...