Posts

Idealisme Pancasila yang Alay

Image
Secara historis, kita semua tahu bahwa Pancasila menjadi landasan ideologi bangsa tidak melalui perjalanan yang ringan. Butuh energi yang cukup banyak untuk menyusunnya menjadi satu kesatuan yang utuh. Setiap bagian dari usulan rumusan, masing-masing harus mampu merepresentasikan keseluruhan nusantara sebagai satu kesatuan. Bukan terpisah-pisah dalam memperjuangkan hak dan kewajibannya. N egara kita ini bukanlah negara homogen yang memiliki satu kesamaan budaya. Bahkan, bahasa yang digunakan dalam satu daerah dengan daerah yang lain pun memiliki ciri khasnya tersendiri. Misalnya saja, logat yang dipakai di Yogyakarta ada perbedaan yang mencolok dengan logat dari karesidenan Banyumas. Belum yang berada dipulau yang berbeda. Bahkan, ada lebih dari 500 bahasa dimiliki oleh bangsa kita ini. Sungguh, sebuah kekayaan yang tak ternilai harganya. Saya tidak menuliskannya sebagai bahasa daerah, karena bahasa-bahasa tersebut merupakan kepunyaan bangsa Indonesia. Sedangkan kedudukan bah...

Beda Pegawai Negeri. Swasta dan Pengangguran

Dalam masyarakat, status ekonomi menjadi satu hal yang amat mudah digunakan sebagai alat ukur kekuasaan. Orang dengan penghasilan terbesar, acap kali memiliki kekuasaan yang tidak terbatas. Termasuk, tidak perlu berbaur dengan masyarakat umum dan melakukan gotong-royong untuk mendapatkan perlakuan yang sama. Perbandingannya terletak pada konsep tidak adanya sanksi bagi mereka yang berduit, sedangkan yang tidak berduit hanya bisa bermimpi untuk mendapatkan porsi yang sama. Padahal, katanya masyarakat kita dibentuk dalam dasar demokrasi. Yang terjadi adalah fleksibilitas sistem yang dipakai. Jika apa yang dilakukannya benar, maka dengan lantang meneriakkan bahwa demokrasi sudah ditegakkan. Jika salah, maka adat-istiadat menjadi rujukan utama dalam menyikapi sebuah persoalan. Intinya, penguasa tidak pernah salah dan jika mereka salah, kembali lagi ke komentar awal. Entahlah, barangkali masyarakat kita ini masih berada pada tahapan perkembangan “alay”. Padahal, kita berada di ujung ...

Pendidikan, antara Kesadaran dan Keteladanan

Sudah lebih dari enam dekade, sejak proklamasi dideklarasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Dari penjajah, kita belajar untuk bersatu dan mempertahankan harga diri dan martabat. Dari pemberontakan, kita belajar tentang indahnya saling memahami. Dan dari kegagalan reformasi, kita belajar tentang kejujuran. Alasan kelemahan bangsa kita saat ini dikarenakan oleh ketidakjelasan arah pendidikan dalam mewujudkan Indonesia yang cerdas dan bermartabat.  Sehingga, tidak mengherankan jika pelaksanaan pendidikan kita masih banyak yang jauh dari harapan. Terutama, jika kita memperbandingkan kenaikan anggaran pendidikan dengan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai. Kalau tidak percaya, lihatlah proses pembelajaran di kelas dan bisa kita tanyakan kepada para guru. Bahwa, kenaikan biaya untuk menggaji guru belum tentu membuat kinerja dan kesadarannya meningkat. Kebijakan pemenuhan 24 jam mengajar dalam seminggu sebagai syarat sertifikasi misalnya. Telah membuat para guru lebih mementingka...

Membantu Anak Berkesulitan Membaca dengan Teknik DRTA

Dalam pembelajaran di kelas, seorang siswa tidak bisa terlepas dari aktivitas empat keterampilan berbahasa yaitu kegiatan menyimak, berbicara, membaca kemudian menulis (Depdiknas, 2006:23 ). Dengan empat keterampilan ini, anak bisa menyerap sebuah  informasi, mengolah, disesuaikan dengan pengetahuan yang sudah baru dan menjadi sebuah pengetahuan baru. Pada awal sekolah, keempat keterampilan ini dibutuhkan oleh anak dalam menentukan pola belajarnya. Salah satu hal yang sering dialami oleh anak pada kelas tinggi adalah disleksia, yaitu kesulitan dalam aktivitas membaca. Disleksia mempengaruhi kemampuan seseorang untuk belajar, mengolah, dan mengerti suatu informasi dengan baik. Sehingga, memiliki potensi dalam menghambat penyerapan ilmu pengetahuan dan konsep baru yang diterima oleh anak. Secara khusus Rustinah (2009), anak yang mengalami problem disleksia mempunyai kesulitan mengenali dan mengartikan suatu kata, mengerti isi suatu bacaan, dan mengenali bunyi. Kesulitan dalam...

PSSI Perlu Belajar dari Total Football

Image
Bagi para penggila bola, Belanda merupakan satu tim yang selalu ditunggu kiprahnya di berbagai turnamen sepak bola internasional. Popularitasnya selalu melebihi negeri penemu sepak bola, Inggris. Pertandingan yang menyuguhkan permainan atraktif, kerja sama tim yang solid dan stabilitas irama permainan yang tinggi selalu mengundang decak kagum para penggila bola. Jika kita bicara tentang gaya sepak bola Belanda yang mendunia, total Football, tidak bisa dilepaskan dari tangan dingin arsitek pengenal total Football yakni Rinus Mitchel (1974) . Gaya sepakbola sederhana dengan konsep menyerang dan bertahan secara serentak dengan tempo tinggi yang dikomandoi Johan Cruiff, mampu mendobrak keindahan pertahanan gerendel cattenacio Italia ataupun keindahan liukan tubuh ala joga bonito , Brazil. Hal ini menunjukkan bahwa Negeri Kincir Angin ini memiliki cita rasa unsur kreativitas yang tinggi. Gaya total football   merupakan salah satu contoh konkrit selain pembangunan polder (dam),...

Urgensi Pemaknaan Peran Guru BK

Dalam sejarah perjalanan perkembangan pendidikan kita, satu hal yang menjadi ketakutan siswa untuk masuk sekolah adalah tentang keberadaan guru BK (dulu BP). Topik menarik yang tidak pernah usang diperbincangkan anak-anak adalah ketika ada teman mereka yang masuk ‘ruang BP’. Seolah, mereka yang masuk ke ruang tersebut adalah anak nakal yang sudah tidak memiliki harapan lagi untuk sembuh. Sehingga, tidak mengherankan jika kemudian para guru BK ini diberi julukan sebagai ‘polisi sekolah’. Meskipun telah lama berganti nama (dari BP menjadi BK), kekhawatiran yang patut kita sadari adalah hanya sekedar perubahan nama saja tanpa ada perubahan makna. Di beberapa sekolah, mereka menerapkan sistem poin yang sangat berat untuk sebuah kesalahan yang fatal misalkan membawa miras atau narkoba di sekolah, merokok hingga sex bebas. Bukan rahasia jika beberapa contoh tersebut ada dalam lingkungan sekolah tertentu. Yang menjadi permasalahan bukanlah ketika seorang siswa melanggar kemudian men...

Ketulusan Seorang Guru

  “Seperti hujan, dia menyirami setiap inci tanah yang dilewati awan Seperti air, dalam diamnya dia membawa apapun yang ak diketahui…” Dalam berbagai bahasa, guru diartikan seagai orang ang diutus untuk memberikan pencerahan. Hal ini terlihat dari kata mu’alim, ustadz atau resi yang berarti orang yang mampu melepaskan sebuah kondisi masyarakatnya dari gelap menuju terang. Jadi, sesungguhnya kata guru memiliki potensi nilai kesakralan dalam kehidupan kita. Namun, sebuah pekerjaan atau profesi yang mulia tidak bisa didapat dengan mudah. Perjalanan menuju keahlian khusus adalah kenikmatan tersendiri ketika seorang telah yakin dengan keputusannya. Tidak terkecuali profesi seorang guru, keihklasan dalam menjalani proses adalah kunci dalam mencari jati diri. Bahwa tak ada proses yang sedemikian mulusnya untuk mencapai tujuan, tetapi penuh dengan jalan yang berliku. Profesi guru menjanjikan amalan-amalan yang banyak hingga semua orang sepakat bahwa guru adalah pekerjaan ya...