Pembelajaran Matematika dengan Strategy Guided-Discovery

A. Pendahuluan

Kemajuan teknologi yang begitu pesat, pada kenyataannya tidak membuat kritikan terhadap pembelajaran di sekolah berkurang. Saat ini, kualitas pembelajaran di sekolah-sekolah dinilai masih belum memuaskan. Guru masih dominan mengajar dengan metode ceramah tanpa divariasikan dengan metode atau media pembelajaran yang lain. Sehingga, gaya pembelajarannya pun cenderung monoton.

Kondisi ini membuat siswa sering mengalami kebosanan ketika mengikuti pembelajaran di kelas. Dominasi guru dalam berkata-kata turut membatasi kemauan dan keberanian anak untuk mengemukakan pendapatnya. Pada akhirnya, inisiatif, kreativitas dan pemahaman siswa dalam mencerna konsep pun terganggu.

Padahal, dalam kurikulum 13 maupun kurikulum merdeka pembelajaran di kelas diharapkan mampu memfasilitasi anak dengan konsep pembelajaran abad-21 yang menuntut perubahan pendekatan dari teacher centered menjadi student centered. Secara umum, hal ini memberikan kesempatan kepada siswa agar menjadi subjek bukan objek dalam pembelajaran.

Penguasaan literasi (kemampuan membaca) dan numerasi (kemampuan berhitung) anak-anak pada saat ini dinilai masih rendah. Hal ini bisa dilihat dari hasil rapor pendidikan yang di beberapa sekolah masih berwarna merah yang artinya kurang. Setali tiga uang, di SD 1 Pandak pun para siswa mengalami kesulitan dalam operasi hitung matematika. Terutama jika soal yang disajikan berbentuk soal cerita.

Dalam pembelajaran ini, materi yang disampaikan dalam pembelajaran adalah materi tentang sudut dan bangun ruang kelas 5 semester 2. Untuk mengaktifkan kemampuan pemahaman matematika anak, dari beberapa jenis metode penemuan terbimbing (Guided Discovery) cocok untuk mengatasi permasalahan ini.

Penemuan oleh siswa yang dibimbing oleh guru, akan mengarahkan siswa untuk menemukan sendiri konsepnya tentang fakta-fakta matematika. Sehingga, ketika siswa paham terhadap konsep yang sedang dipelajari maka mereka akan bisa memahami permasalahan-permasalahan matematika dengan sangat baik. Tambahan media berbasis TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge) memberikan pengalaman tambahan bagi anak. Karena pada saat ini, teknologi sudah tidak bisa dilepaskan lagi dari pendidikan.

      

B.    Pembahasan

1.  Situasi

            Praktik baik ini saya susun sebagai referensi tambahan penggunaan metode berbeda dalam pembelajaran matematika. Sehingga, dapat dipergunakan untuk menambah wawasan bagi guru dalam memberikan variasi pembelajaran. Sesuatu yang baru, harapannya bisa meningkatkan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran dan mencerna materi secara komprehensif.

            Praktik baik ini disusun berdasarkan permasalahan yang didapatkan sebelum memulai pembelajaran melalui wawancara dan studi literasi. Dari permasalahan yang didapatkan, kemudian disusun strateg-strategi yang memungkinkan untuk digunakan untuk memecahkan permasalahan yang ada.

            Pada kesempatan ini, penulis memilih materi sudut dalam pembelajaran matematika kelas 5 semester 2. Selanjutnya, penulis menyusun perangkat pembelajaran yang meliputi pendekatan, metode, media, sumber belajar, lembar penilaian, lembar observasi dan LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik) serta soal evaluasi.                 

2.  Tantangan

Dalam penulisan praktik baik ini, ada beberapa tantangan yang muncul dalam mencapai tujuan pembelajaran tersebut. Adapun beberapa masalah yang muncul adalah sebagai berikut.

a. Faktor Internal

Beberapa faktor internal yang mempengaruhi KBM adalah:

1)    Kemampuan kognitif siswa yang beragam, terutama dalam pelajaran matematika.

2)    Beberapa siswa masih kesulitan dalam operasi dasar matematika terutama pada pengurangan, perkalian dan pembagian.

3)    Siswa masih kesulitan dalam memecahkan permasalahan matematika yang bersifat realistik (kegiatan matematik yang ada di lingkungan siswa).

b. Faktor Eksternal

Sedangkan faktor eksternal yang dihadapi adalah sebagai berikut:

1)    Guru kurang aktif dalam menggabungkan berbagai metode, model, teknik dan media dalam pembelajaran.

2)    Media berbasis TPACK belum dijadikan sebagai salah satu media yang menjadi prioritas dalam pembelajaran.

3)    Kurikulum baru perlu penyesuaian tentang level materi, penyajian dan evaluasinya.

            Dalam mempersiapkan pembelajaran dan mengatasi berbagai permasalahan, penulis dibantu oleh dosen pembimbing, guru pamong dan rekan-rekan mahasiswa. Diskusi yang terjalin selama sebelum, dalam kegiatan dan pasca praktik baik sangat membantu dalam penyempurnaan KBM. Pada kesempatan ini, kepala sekolah memberikan izin dan terlibat dari sebelum kegiatan dalam hal perumusan masalah dan pemantauan selama kegiatan berlangsung.

            Pihak lain yang terlibat yaitu rekan guru yang telah membantu dalam diskusi penyusunan materi dan pembuatan video selama pembelajaran. Orang tua atau wali siswa kelas 5 SD N 1 Pandak, memberikan dukungan penuh dalam praktik baik ini. Selain memperkaya pandangan siswa dalam belajar, juga memberikan pengalaman baru yang sangat penting dalam perkembangan kemampuannya.

3.  Aksi

            Untuk mengatasi tantangan tersebut, saya melakukan wawancara kepada kepala sekolah, pengawas sebagai ahli, rekan guru dan rekan komunitas belajar di tingkat kapanewon (kecamatan). Kajian literatur juga menjadi rujukan akademik untuk memperkuat permasalahan ataupun pemecahan terhadap permasalahan yang terjadi. Proses dalam pemecahan masalah ini dimulai dari tanggal 3 Januari 2024. Adapun langkah-langkah yang dilaksanakan untuk memecahkan permasalahan adalah sebagai berikut:

a.)    Penentuan masalah.

        Dari hasil wawancara, kajian literasi dan observasi kelas, literasi-numerasi menjadi permasalahan yang umum terjadi. Anak yang kemampuan literasinya kurang bagus, secara otomatis berpengaruh terhadap kemampuan numerasinya. Sesuai dengan logika, bagaimana anak dapat memecahkan permasalahan matematis jika dia belum bisa memahami bacaan atau sekedar instruksi?

        Penyebab yang paling disoroti adalah masih monotonnya metode atau model pembelajaran yang digunakan oleh guru. Variasi penggunaan perangkat pembelajaran belum menjadi budaya di kalangan para guru. Padahal, variasi ini bisa memberikan warna dan nuansa baru bagi pembelajaran di dalam kelas. Pada kesempatan ini, penulis menggunakan materi “sudut” dalam pembelajaran yang diberikan sentuhan inovasi. Di samping cukup menantang, juga sesuai dengan materi yang sedang berlangsung di kelas 5.

b. )   Menentukan pendekatan, metode dan model pembalajaran yang tepat.

        Untuk mendukung muatan literas-numerasi dan HOTS (High Order Thinking Skills), maka digunakan pendekatan realistik dalam pembelajaran dan evaluasi. Agar kemampuan anak yang kurang tersebut bisa mengikutinya maka metode pembelajaran yang digunakan adalah penemuan terbimbing (guided discovery). Anak tidak hanya mendapatkan alur pemecahan masalah dari ceramah guru saja. Tetapi juga dari hal-hal lain yang mungkin terjadi saat KBM sedang berlangsung.

        Pendekatan realistik, membutuhkan pemecahan masalah yang intens. Maka, dalam modul ajar disisipkan sentuhan teknologi dengan membagikan video tentang sudut. Format sumber belajar audio-visual ini, menambah motivasi siswa untuk belajar dengan media yang bergerak dan bersuara. Kelebihan dari Media Visual yaitu :  Repeatable, analisisnya lebih detai dan tajam, dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki siswa.  Kelebihan dari Media Audio Visual yaitu : Medianya menggukan suara dan diiringi bahasa dan ekspresi sehingga penikmatnya hanya yang memiliki taraf penguasaan yang baik dan lainnya. (Nursifa dkk, 2022:84)

        Adapun langkah yang dilaksanakan dalam metode penemuan terbimbing (guided discovery) adalah sebagai berikut (Marzano, dikutip Markaban,2008):

Fase 1: Orientasi siswa pada masalah.

Pada tahapan ini, anak diarahkan untuk berpikir materi baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki. Rencana pada materi geometri dengan pengetahuan awal sudut.

Dalam kurikulum merdeka, fase ini bisa diisi dengan asesmen diagnostik atau pertanyaan pemantik terkait pengetahuan yang sudah ada. Misalnya ditanya dengan :

1. “Jika Pak Dion memiliki dua titik, kemudian saya tarik garis di antara keduanya maka akan terbentuk apa?”

2. Kemudian dilanjutkan, “Jika salah satu ujung dari kedua garis tadi bertemu maka akan terbentuk?”

3. Jika anak menjawab sudut maka, “Sebelum sudut, pertemuan kedua garis ini namanya apa? Titik...su...dut?”

4. “Nah, lalu apa yang dimaksud dengan sudut?”

5. Guru menunjukkan wilayah sudut yang terbentuk dari pertemuan dua garis tersebut.

“Nah, hari ini kita akan melanjutkan materi kemarin yaitu menentukan besar sudur. Sudah siap semua? Busurnya sudah dibawa?”  

 Gambar 1. Orientasi siswa agar masuk ke dalam aktivitas pembelajaran.

Fase 2: Mengorganisasikan siswa dalam belajar.

Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan ringan dan discrepant event.

Pada tahap ini, guru mendemostrasikan di depan kelas dengan sebuah kertas berbentuk persegi. Kemudian kertas tersebut dipotong menjadi dua secara diagonal. Kegiatan ini ditujukan untuk menunjukkan besar jumlah sudut yang terbentuk dalam bangun yang memiliki 3 sisi dan bangun yang memiliki 4 sisi. 

 


Gambar 2. Discrepant Event untuk mengaktivasi aktivitas berpikir anak.

Fase 3: Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok.

Guru membagi siswa menjadi 5 kelompok, sehingga terbentuk kelompok dengan anggota 3 orang. Setelah itu, masing-masing siswa mengambil lembar kerja dan permasalahan yang akan dipecahkan.



Gambar 3. Pembagian kelompok kecil, 1 kelompok berisi 3 anak.

Pada kesempatan ini, satu orang tidak berangkat sehingga jumlah keseluruhan peserta adalah 14 orang. Hal ini membuat kelompok 2 hanya berisikan 2  orang saja. Guru memantau kegiatan siswa dan mendampingi jika ada siswa yang memerlukan bantuan.

 

Fase 4: Menjawab masalah dan menyiapkan hasil kerja.

Siswa mengerjakan permasalahan dan menuliskannya di lembar kerja. Dalam kegiatan ini, masing-masing kelompok menuangkan pemecahan masalah yang mereka dapatkan ke dalam lembar kerja.

 

 Gambar 4. Masing-masing kelompok berbagi peran dalam memecahkan permasalahannya. Jika mengalami kesulitan, maka anak bisa bertanya kepada guru untuk menentukan langkah pemecahan masalah.

 

Fase 5: Mempresentasikan hasil kerja.

Anak mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas sehingga bisa bertukar informasi yang didapatkannya. Masing-masing kelompok mempresentasikan di depan kelas. Presentasi ini terdiri dari 3 bagian yaitu perkenalan anggota tim, pemaparan pemecahan masalah dan sesi tanya-jawab atau menanggapi.

 Gambar 5. Presentasi pemecahan masalah yang didapat oleh masing-masing kelompok.

 

Sebelum kelas diakhiri, siswa menyaksikan video pembelajaran tentang sudut berikut :

Gambar 6. Variasi pembelajaran dengan menampilkan materi dari sumber belajar media audio-visual.

Setelah menonton video tersebut, anak mengerjakan soal evaluasi tentang sudut.

                                                                            

Gambar 7. Pengerjaan soal evaluasi

c.)     Refleksi.

        Secara umum, pembelajaran berlangsung dengan lancar dan tidak ada kendalai yang cukup berarti. Anak-anak langsung antusias ketika guru membawakan LCD dan kertas manila yang sudah dipotong menjadi 2 bagian. Dampak yang terjadi dari penggunaan metode penemuan terbimbing (guided discovery) cukup berhasil dan mampu memotivasi siswa untuk berpartisipasi dalam pembelajaran. Sehingga, siswa menjadi lebih fokus dan terarah selama pembelajaran berlangsung.

        Pembelajaran ini juga secara langsung mencakup keterampilan 4C dalam pembelajaran abad-21 yaitu creativity and innovation, critical thinking and problem solving, communication dan collaboration. Anak kreatif dan menggunakan imajinasinya untuk memecahkan permasalahan. Selama pembelajaran, siswa juga mendapatkan kesempatan untuk kritis dalam menyikapi kasus dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Pembelajaran kelompok yang disusun juga membuat siswa mau tidak mau harus berkomunikasi dengan temannya dalam menyelesaikan tugas. Perbedaan individu dalam kelompok, secara tidak langsung memfasilitasi anak untuk berkolaborasi atau bekerja secara berkelompok sesuai dengan kemampuannya.

        Metode penemuan terbimbing (guided discovery) yang sebenarnya digunakan dalam pembelajaran sains, ternyata bisa digunakan dalam pembelajaran matematika. Konsep menemukan, berkreasi dan mempresentasikan hasil di depan kelas merupakan bagian dari pembelajaran berbasis HOTS (High Order Thingking Skills). Manfaat yang akan diraih dari metode presentasi adalah adanya suasana kelas yang hidup. Secara psikologis peserta didik merasa bangga bisa mengungkapkan ide, perasaan dan pikirannya dan tampil paling tidak di depan teman-teman sekelas dan gurunya. Rasa bangga itu akan lebih kentara jika kita mendokumentasikannya, dan di akhir program sambil membagikan hasil evaluasi (Diyaul Millah,2015:266).

        Sehingga, metode ini sangat cocok diterapkan pada pembelajaran modern yang berpusat pada siswa. Metode penemuan terbimbing dengan model kooperatif dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam memecahkan masalah, terutama bagi siswa yang memiliki kemampuan rendah, dan membuat siswa senang belajar matematika (Tayibu, 2021126).

        Hasil penilaian kognitif juga cukup memuaskan, lebih baik daripada hasil yang diperoleh sebelumnya pada materi dasar pengenalan sudut. Secara pribadi, anak-anak menyatakan senang karena ternyata ada cara lain dalam belajar matematika. Penggunaan media berbasis TPACK menambah motivasi siswa untuk antusias terhadap pembelajaran yang dilaksanakan. Mereka menilai, pembelajaran menjadi tidak membosankan karena variasi yang dilakukan dalam pembelajaran. Bagi guru, praktik baik ini bisa menjadi dokumentasi, inspirasi, mendapatkan saran dan juga kritik.

C.    Kesimpulan

     Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang bervariasi, bukan monoton dengan menggunakan metode andalan saja. Variasi dan kolaborasi ini, menghasilkan pembelajaran yang menarik dan memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif selama proses pembelajaran berlangsung. Penggunaan media pembelajaran yang berbasis TPACK juga turut memfasilitasi siswa untuk mengenal teknologi. Karena bagi mereka, teknologi seharusnya menjadi menu sehari-hari yang tidak bisa dipisahkan. Pembelajaran sudah tidak bisa dilakukan dengan metode konvensional saja.

     Dalam pembelajaran kolaboratif ini, diperlukan kerjasama yang luas antara sekolah (kepala sekolah dan guru), siswa dan orang tua. Sinergi tiga pihak ini, secara nyata meningkatkan siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan antusias. Hal ini sekaligus menjadi sebuah tantangan bagi guru untuk terus melakukan inovasi agar pembelajaran yang disajikan semakin berkualitas.

 

D.   Daftar Pustaka

 

Diyaul Milah. 2015. “Audience Centered pada Metode Presentasi Sebagai Aktualisasi Pendekatan Student Centered Learning”. Vol. 10, No. 2. https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/Edukasia/article/view/794/762.

 

Markaban. 2008. Model Penemuan Terbimbing pada Pembelajaran Matematika SMK. Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika.

 

Nursifa Faujiah,  Sekar Nanda Septiani, Tiara Putri dan  Usep Setiawan. 2022. “Kelebihan dan Kekurangan Jenis-Jenis Media”. Jutkel: Jurnal Telekomunikasi, Kendali Dan Listrik, Vol. 3 – No.2.

 

Tayibu, Nur Qalbi dan Andi Nurul Faizah. 2021. “Efektivitas Pembelajaran Matematika melalui Metode Penemuan Terbimbing Setting Kooperatif”. Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 10, Nomor 1, Januari 2021.

 



Comments

Popular posts from this blog

Intensifikasi Sosialisasi Daging Gelonggongan

Menulis sebagai Kesenangan tak Terkirakan

Transformasi BUMD dengan UMKM