Menyambut Suara Angin
Angin, yang selalu berada dalam sajak-sajak sang penyair, telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari simbol keindahan kata. Ia ada, tetapi kita tak bisa melihatnya. Ia mengalir, sedangkan kita sendiri tak sanggup untuk mengikuti alirannya. Dan di sepanjang yang manusia ketahui, angin tak bisa kita definisikan sebagai sebuah bentuk. Bahkan, untuk melukiskannya pun tak sanggup. Hanya mampu menyimbolkannya sebagai garis-garis yang saling berkejaran. Jika sendiri, ia tak bersuara. Barulah kalau hal lain mengikutinya, maka ia akan bergemuruh. Seluruh alam takut dibuatnya. Pepohonan dengan mudah diterbangkannya. Rumah tinggal fondasinya dan mobil-mobil simbol kekuasaan dan kesombongan itu hanya seperti mainan saja. Maka, masih pantaskah kita menyombongkan, karena bahkan kita tak mampu untuk melawan kekuatan yang tidak bisa kita lihat dengan mata kepala kita sendiri. Masih jelas dalam ingatan ini, bagaimana pak khotib kemarin menyampaikan makna tahun baru. Tahun masehi yang terkada...