Senin, 11 Februari 2013

Menuju 2014, Pilih Partai atau Figur?


            Menjelang  pergantian rezim, berbagai peristiwa menarik dan tak terduga bermunculan satu demi satu. Pada tahun 2013 ini, berita penurunan elektabilitas partai berkuasa (baca: Demokrat) sepertinya mengawali peristiwa besar lainnya. Kasus-kasus korupsi yang menjerat para kader, secara perlahan menjadi semacam kanker yang tidak terlihat tetapi mematikan. Dukungan media kita yang bahkan lebih bebas daripada pers di Amerika sekalipun, turut memberikan pembelajaran yang sangat berharga pada masyarakat.
Dari sepuluh partai baru yang lolos verifikasi partai politik (parpol) peserta pemilu 2014, hanya satu partai yang sempat menggebrak yaitu Nasdem atau Nasional Demokrat. Pada awalnya, harapan publik tentang keraguan terhadap kepemimpinan bangsa yang dipimpin oleh para ‘orang tua’ mendapat titik terang. Dengan semangat perubahan, partai bentukan Surya Paloh ini mengikrarkan diri sebagai partai perubahan. Meskipun, kemudian pada akhirnya mesin partai ikut terpecah menyusul kengototan Surya Paloh yang mengarah untuk dicalonkan sebagai calon presiden.
Di saat PDIP pimpinan Megawati sedang ‘galau’ memilih dan memilah capres yang diusung, berita paling mengejutkan tentu saja berasal dari partai yang berslogan ‘bersih’, PKS. Entah terlibat ‘permainan’ politik atau tidak, kasus kuota impor daging sapi tentu menjadi perbincangan yang sampai saat ini saya kira masih layak diperbincangkan.
Pasalnya, partai yang semula menjadi ‘harapan’ publik dalam penegakan pengadilan korupsi pun pada akhirnya tersandung daging sapi. Tentu sangat disayangkan, mengingat elektabilitas partai ini dalam dua kali pemilihan umum menunjukkan grafik peningkatan Perolehan suara. Partai lain? Masih belum terdengar gaungnya.
Peristiwa ini, seolah melengkapi prediksi para pengamat politik bahwa 67 persen politikus di negeri ini terlibat korupsi. Korupsi telah menjadi kanker kronis yang telah menginfeksi negeri ini sejak pertama kali dibentuk. Bahkan, kalau kita menengok kembali pada sejarah para ‘imperialis’ barat dahulu pun tidak lepas dari perilaku ini. Kita tentu  masih ingat, bahwa korupsi mampu meluluhlantakkan kongsi dagang terbesar di dunia pada zamannya, VOC.
Sejarah kita tidak pendek bung! Terlalu panjang bahkan jika diajarkan sejak seorang warga negara Indonesia masuk ke sekolah di tingkat PAUD. Sejarah terlalu sayang untuk dilupakan, karena ia memiliki banyak kisah baik dan buruk perjalanan bangsa. Seharusnya, kita lebih mendalami kembali sejarah kita. Bukankah Soekarno pernah berpesan dengan idiom ‘jas merah’ (jangan sekali-kali melupakan sejarah)?
Berbicara tentang masa depan bangsa ini untuk 5 tahun ke depan, tentu sangat tepat jika kita mulai berpikir sedari awal. Sebagai pemilih ataupun calon pemilih yang cerdas, kita harus menentukan pilihan yang ‘benar’. Jangan sampai kita menyesali pilihan kita pada 2014. Memang sulit jika kita harus membela satu partai politik. Meskipun, itu sudah menjadi hak setiap warga negara kecuali para anggota TNI-Polri yang memang kehilangan hak suaranya. Karena fakta-fakta telah menunjukkan kita pada kondisi partai politik yang masing-masing memiliki noda.
Kalaupun kita memilih berdasarkan figur, saya kira kita semua akan memicingkan mat. Bagaimana partai-partai sudah berani ‘menjual diri’ dengan merekrut para artis. Bahkan, Bang Haji Rhoma Irama yang pada awalnya diguraukan menjadi capres 2014 pun malah sudah benar-benar menyiapkan mesinnya. Belum lagi, ekspansi para artis ibukota ke Senayan telah membuat kita harus sering-sering mengelus dada. Bagaimana pelawak Eko Patrio yang berhasil masuk Senayan. Atau Wanda Hamidah yang beberapa waktu lalu terpeleset kasus Rafi Ahmad.
Sepertinya, Senayan saat ini sudah menjadi panggung hiburan. Sehingga, tidak heran jika polah tingkah mereka pun penuh dengan kepalsuan artis atau tenggelam dalam bayang-bayan partai. Tentu saja, kita memberikan beberapa pengecualian seperti pada Rieke Dyah yang memang bekerja di lapangan dan mengawal kebijakan-kebijakan.
Sekali lagi, sadar atau tidak saat ini kita sedang dihadapkan pada dilema yang sangat pelik. Di satu sisi, sebagai warga negara kita harus menentukan pilihan kita untuk pemimpin bangsa. Di sisi lain, kita dihadapkan pada pilihan golput setelah melihat polah tingkah ‘pilihan’ kita lima tahun yang lalu. Partai sebagai aktualisasi kebersamaan rakyat Indonesia, sekarang ini tak ubahnya tinggal menjadi mesin usang yang berkarat.
Dibuang sayang, mau diperbaiki sudah terlanjur terkorosi di sana-sini. Yang jelas, sebagai warga negara yang baik kita harus tetap berpartisipasi. Meskipun pelik dan menyedihkan, kepemimpinan harus kita serahkan kepada orang-orang yang mampu mengembannya. Jadi, jangan sampai kita salah memilih pemimpin untuk masa depan. Karena kalau bukan kita, siapa lagi yang harus membenahi bangsa ini? 
Termuat di Nguda rasa Koran Merapi edisi Senin, 11 Februari 2013

Isdiyono, Mahasiswa FIP
Universitas Negeri Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar